Review Kiseiju Live Action Part 1


Movie ini diadaptasi dari manga science-fiction horror Kiseijuu (Parasyte) karya Iwaaki Hitoshi. Manga tersebut populer pada tahun 1988 sampai 1995. Pada tahun kemarin telah diadaptasi menjadi anime sebanyak 24 episode. Live Action Parasyte akan dibagi menjadi 2 part, part 1 nya sudah tayang di Indonesia sejak 14 Januari. Pusat dari cerita adalah Izumi Shinichi, seorang siswa SMA yang menjadi inang dari alien parasit berusaha mengambil alih otak manusia. Beruntung si Shinichi yang tertidur sambil memakai earphone, parasit yang ingin masuk lewat telinga malah berpindah ke tangan. Selamatlah otak Shinichi, tapi setelah itu tangan kanannya berubah menjadi alien bernama Migi (artinya tangan kanan). Shinichi dan Migi membentuk simbiosis mutualisme dan berkerja sama melawan para parasit lain pemakan manusia.

Ryoko Tamiya
Part 1 ini berusaha mengcover separuh dari 10 jilid manga (64 chapter), untuk mencapai hal itu sang sutradara Takashi Yamazaki (Space Battleshiip Yamato, Always) melakukan banyak sekali perubahan dari segi cerita dan karakter. Banyak part penting dari manga yang hilang, salah satunya hilangnya sang ayah di movie ini. Padahal yang bagian dimana traumanya sang ayah saat ibu Shinichi diambil alih parasit adalah salah satu bagian yang menguras emosi. Plotnya terasa sangat cepat, bagi yang sudah membaca manga dan menonton anime pasti sedikit kecewa (*banget, itu parasitnya bukan datang dari lautan tapi dia turun dari langit bagaikan salju). Yamazaki yang juga bertindak sebagai visual effects director mampu menyajikan efek pertarungan antar parasit yang patut diacungi jempol.
Untuk akting dari para pemain sudah bagus. Padahal memerankan para parasyte yang mukanya datar tanpa ekspresi pasti sulit, tapi mereka sukses melakukannya. Cuma satu yang sangat saya sayangkan, pemeran karakter utama Shota Sometani (Wood Job, Eternal Zero, Brain Man) kurang bisa mewakili karakter Shinichi yang awalnya anak pendiam menjadi seorang yang heartless. Sometami sudah berusaha berakting semaksimal mungkin, tetapi Sometani yang berwajah imut tidak bisa mewakili karakter heartless Shinichi. Dari semua pemain, satu yang menjadi favorit saya adalah Eri Fukatsu sang pemeran Ryoko Tamiya.


Ada yang hal yang boleh dibilang “menganjal” di benak saya. Dalam manga chapter 11 dan anime episode 5. Dikisahkan sepasang kekasih naik mobil dan karena sebuah kelalaian mereka mengalami kecelakaan. Si wanita yang ternyata parasit tidak memakai sabuk pengaman mengalami luka parah. Untuk menyelamatkan diri, sang parasit berpindah ke tubuh si pria. Alhasil parasit kesulitan dalam mengontrol tubuh barunya karena memang tubuh pria dan wanita itu bebeda. Oleh karena itu dia menyusuri jalan berusaha mencari inang baru (wanita). Bertemulah dia dengan orang tua Shinichi. Sang parasit akhirnya mengambil alih tubuh ibu. Kali ini parasit bisa mengontrol tubuh ibu dengan mudahnya. 


Dikisahkan juga di episode awal seekor parasit terjebak dalam tubuh anjing dan tidak bisa pindah ke tubuh manusia. Jadi bisa disimpulkan bahwa seekor parasit bisa berpindah tubuh dengan sempurna jika inang masih 1 spesies dan 1 gender. Tapi coba lihat di Live Action dengan mudahnya parasit A bisa berpindah dari polisi bergender pria ke ibunda Shinichi yang wanita. Apakah si A adalah parasit jenius setara dengan Ryoko Tamiya? Sayang tidak ada kejelasan. Jika berpindah inang itu mudah, besar kemungkinan si Migi akan mencari manusia baru dan menguasai otaknya, ia kan ?

Film ini sangat menarik, apalagi saat pertarungan Shinichi dibantu Migi melawan parasit lainnya. Serangan yang saling beradu cukup menegangkan. Tidak sabar menunggu Part 2!

Tidak ada komentar untuk "Review Kiseiju Live Action Part 1"